FRiENSHIP Or love ?
Pada dasarnya air tidak
hanya mengalir pada satu sungai
Memang bukan hanya ada
satu titik menuju kehidupan
Disini pun ada lebih
dari satu masalah yang mengganggu
Bahkan setiap petik kata
dapat mematikan hati
Karena hidup tak selalu
tentang bahagia
Jika cinta
maksudnya
menyediakan
tempat utuk orang yang tak pernah
datang,
lebih baik
tidak!
Ketika
sinar mentari mulai menusuk semua penjuru ruangan, dan saat itu pula Lea baru
terbangun dari mimpi indah yang tak berujung. Lea kaget setengah mati melihat
matahari yang sudah menjulang tinggi di ufuk Timur. “Ya ampun, udah jam berapa
ini? Tuh kan telat bangun lagi gara-gara mimpi yang nggak jelas itu huuuhh”
Desah Lea.
Seperti biasa hari ini adalah jadwal
olahraga kelas Lea. Dan lagi-lagi Lea telat bangun dan terlambat mengikuti
olahraga. Sebenarnya Lea adalah anak yang rajin, dia selalu berangkat pagi di
hari-hari biasa. Tapi karena kelas Lea mendapat jadwal olahraga yang super
pagi, Lea sering terlambat saat jam olahraga.
“Heh Lea! Tadi lo
telat lagi? Apa enggak bosen telat terus?” tegur Misha.
“Sorry deh Sha,
tau kan kalo pagi-pagi tuh gue susah baggun” sahut Lea tanpa bersalah.
“Dasar deh lo”
“Yaudah lah Sha, udah ganti jam
pelajaran nih. Ayo cepet kita ke kelas” ajak Lea.
Sampai di kelas Lea terus
memperhatikan pelajaran dengan fokus, karena tidak ada jam kosong yang bisa
digunakan utuk sekedar bersendau gurau atau mengobrol dengan teman-temannya. Akhirnya
waktu yang ditunggu- tungu datang, apa lagi kalo bukan bel pulang sekolah.
Seperti komando saja, tak lama setelah bel seluruh siswa-siswi berhambur keluar
kelas dan memenuhi sudut sekolah.
Lea, Misha, Ica, Cecil dan Amara
pulang bersama, saat diparkiran mereka melihar sesosok orang yang mereka kenal.
“Eh
Lea, itu bukannya si Rian ya?” Tanya Ica.
“Ciee…
si Lea mulai salah tingkah tuh” Sahut Amara terkekeh.
“Hehee
apaan sih kalian, lumayan kan siang-siang bisa cuci mata” Jawab Lea.
“Seenaknya
aja ngomongnya” Misha tiba-tiba.
“Udahlah,
ayo cepet pulang” Kata Lea.
“Iya
deh, Lea sebarnya lo tau engga sih? Rian itu udah punya gebetan dan gebetannya
itu ada di kelas sebelah kita, namanya Sheila” Misha berkata dengan hati-hati,
dia takut melukai hati sahabatnya itu.
“Santai
aja Sha, dari awal gue udah tau kok. Lagian kan cinta itu tidak harus saling
memiliki” Jawab Lea enteng.
“Lea
elo engga apa-apa kan? Sebenernya apa sih yang elo fikirin sampai bisa naksir
gebetan orang?” Tanya Ica.
“Gue
udah biasa sakit dengan hal semacam itu Ca, Gua kan cewek strong! Gue engga mikir aneh-aneh kok, gue cuma suka ngeliatin dia
dan menyimpan rasa yang ada di hati gue” Sahut Lea serius.
“Lea…
banyak cowok nganggungin elo, ngejar-ngejar elo, nyari perhatian ke elo, bahkan
mereka mencintai lo dengan setulus hati mereka. Lea… mereka juga punya
kepribadian yang baik bahkan mereka tidak kalah sempurna seperti Rian. Tapi
kenapa elo mengacuhkan mereka dan malah lebih memilih menunggu Rian yang sering
bikin diri lo nangis? Lo sering bilang strong
ke kita padahal di balik kata itu lo masih menagis tanpa mau berbagi air
mata sama kita. Cukup Lea cukup… lo itu enggak akan pernah bisa sekeras batu,
elo itu terlalu lembut. Lea gue pengen liat senyum lo yang tulus, bukan air
mata yang sering terurai di pipi lo, bukan senyuman yang memangksa dan bahkan
bukan hal garing yang sering lo ketawain sendiri. Stop pakek topeng didepan kita! Buat diri lo bahagia Lea, bisa
nggak lo move on dari Rian?” Tanpa Ica spontan.
“Makasih
Ca elo udah ngingetin gue, tapi semua hal tentang cinta enggak pernah semudah
itu. Kalo Tuhan ngijinin gue buat suka sama orang yang mencintai gue dengan
tulus, gue akan dengan senang hati nyambut itu. Dan gue bakalan rela ngelepas
Rian. Tapi Ca.. Tuhan punya kehendak lain dibalik semua itu, gue berterima
kasih sama Tuhan karena gue tercipta bukan sebagi cewek yang behati tajam,
melainkan hanya tecipta dengan hati yang rapuh. Elo sumua pasti tau kan? Gue
bukan orang yang mudah jatuh cinta. Di umur gue yang 17 ini aja gue Cuma pernah
jatuh cinta 3 kali, enggak lebih. Gue bisa cepet move on tapi lo semua juga tau kan, kalo gue move on dari orang yang benar-benar gue cintai pasti akan ada hati
yang lebih terluka. Gue enggak ingin nyakiti hati orang yang mencintai gue. Gue
nggak ingin memanfaatkan mereka cuma sebagai pelapiasan. Dengan ngacuhin mereka
gue bisa bikin mereka pergi dari hidup gue tanpa menyakiti mereka. Mereka juga
berhak bahagia dengan cinta yang lain tapi bukan sama gue. Mungkin saat ini
belum saatnya gue move on. Liat aja
rencana Tuhan selanjutnya” Lea hanya tersenyum.
“Apa
elo engga takut disangka perusah hubungan orang?” Tanya Amara.
“Ara…
kalo cuma sekedar ngelihat dia, lalu menyimpan cinta untuk buat dia, tanpa
menyetuh atau mengganggu hubungannya dengan orang lain itu namanya bukan
perusah hubungan orang lain. Bahkan dengan melihatnya bahagia dengan orang lain
itu udah cukup buat gue bahagia kok” Lea hanya menjawab seadanya.
“Yaudahlah
gays, lagian Lea bukan tipe cewek yang suka ngerusak hubungan orang kok, tenang
aja Lea kan keturunan keraton yang masih menjunjung tinggi kepribadian dan
harga dirinya ” Celoteh Misha.
“Ah sok
tau deh Mishaa” Sahut Lea.
“Yee..
emang bener kok” Sahut Misha, Ica dan Amara bersamaan.
Memang sejak awal Lea sudah mengetahui
segalanya, mulai tentang biodata Rian, masa lalu Rian, bahkan juga orang yang
sedang Rian dekati. Lea tidak pernah menganggap dirinya sebagai pengganggu atau
perusak hubungan orang, karena Lea hanya mengawasi dan mencintainya dari jauh
bahkan tanpa menyetuh kehidupan Rian setitik pun. Sebenarnya Lea bukanlah gadis
yang buruk, Lea pintar, baik, asik dalam bergaul, Lea juga tak kalah cantik
dengan gadis lain, dia punya sepasang mata yang indah dan sekilas senyum yang
manis, walau terkadang senyumnya itu sering terlihat berlebihan saat tertawa
besama teman-temannya. Karena Lea itu adalah seorang yang mepunyai jiwa lebih
murni dari emas, lebih bening dari air dan bahkan lebih halus dari kapas.
Lea masih terus mengawasi Rian dari
jauh, mencuri pandang darinya, bahkan bertegur sapa bila dia terkadang
terpergok oleh Rian. Memang Lea dan Rian sudah saling kenal, mereka dulunya
teman SMP. Sudah sangat lama Lea memedam rasa pada Rian, bahkan sudah banyak
cowok yang Lea tolak demi menunggu seorang Rian mengahampiri hatinya.
Sore itu Lea dan teman-temannya
nongkrong bareng di markas biasa, yaitu Café dekat sekolah mereka. Disana Lea
bisa sambil mengawasi Rian yang terkadang nongkrong bersama temannya atau
sedang bercengkarama dengan gebetan atau pacarnya. Tidak lama setelah Lea dan
teman-temannya nongrong tiba-tiba ada Kak Ari yang ikut gabung sama mereka.
Kak Ari adalah cowok yang cakep juga
keren, dan kerennya lagi dia itu baik dan sopan. Kak Ari itu kakak Kelas Lea
dan teman-temannya. Kak Ari adalah salah satu dari cowok yang naksir sama Lea.
Sebenarnya mudah saja bila Lea menyukai kak Ari dan meninggalkan Rian tapi Lea
tau bahwa Ica sebenarnya naksir sama kak Ari.
“Hai
Lea, Ica, Misha dan Amara” Sapa kak Ari.
“Eh ada
kak Ari” Timbal Ica.
“Iya
Ca, lagi ngapain nih nongkrong disini? Lagi bicarain gue ya?” Canda kak Ari.
“Yee PD
banget sih jadi orang” Lea jadi sewot.
“Tau
deh tuh kak Ari” Sambung Amara.
“Haha
pada sewot semua, ya maap. Lagian kaliah serius banget sih” Kak Ari jadi
ngerasa bersalah.
“Iya
kak, dimaafin kok” Sahut Ica.
“Contoh
tuh temen kalian yang satu ini, baik banget deh” Kata kak Ari asal.
Tanpa sadar pipi Ica langsung merah
merona, akhirnya mereka berlima ngobrol panjang kali lebar sama dengan lama
hahaha. Ya pokoknya ngobrol kesana kemari sampai enggak berujung. Karena udah
sore mereka pun memutuskan untuk pulang.
“Temen-temen
kita duluan ya” pamit Amara dan Misha, karena rumah mereka deket dari sekolah,
mereka jalan kaki sedangkan Kak Ari, Lea dan Ica menunggu di halte bus depan
sekolah.
“Lea
dijemput apa enggak?” Tanya kak Ari.
“Enggak
kak, aku naik taxi kok” Jawab Lea.
“Naik
taxi bareng yuk? Rumah kita kan searah?” Ajak kak Ari.
“Engga
usah kak rumahku kan agak jauhan, mending kakak pulang bareng si Ica deh, rumah
kalian kan cuma beda gang” Usul Lea.
“Kalo
gitu kita bertiga pulang bareng aja” Kata kak Ari.
“Yaudah
deh Lea, pulang bareng aja, lagian jam segini taxi jarang banget lewat sini”
Ica akhirnya ikut bicara.
“Ayo
cepet naik” Suruh kak Ari.
Di dalam taxi Lea duduk disamping
kak Ari, sedangkan Ica duduk di dekat supir taxi. Sebenarnya Ica iri sama Lea
yang bisa dekat dengan kak Ari. Ica telah lama memendam rasa kepada kak Ari
tapi karena tau kak Ari naksir sama Lea dan Lea sebenarnya ada sedikit rasa
sama kak Ari akhirnya Ica bungkam dan lebih memilih mencintai kak Ari secara
diam-diam.
Disisi lain Lea merasa tidak enak
dengan Ica, tapi Lea juga ingin move on
dari Rian dengan cara sedikit membuka hatinya untuk kak Ari. Karena menurut Lea
diantara cowok yang naksir sama dia, hanya kak Ari yang serius dan baik
padanya. Tapi Lea segera memurungkan niatnya, karena tanpa sadar Lea tau arti
dari tatapan mata Ica yang berbinar-binar setiap kali melihat sosok kak Ari.
Lea sengaja mengalah untuk sahabatnya dan dia berencana menyatukan kak Ari dan
Ica. Yang pasti rencananya itu disembunyikan dari teman-temannya yang lain.
Karena Lea takut kalo ia bercerita kepada teman-temannya, mereka akan
memberitahu Ica, dan itu enggak akan jadi kejutan lagi buat Ica.
Karena rencananya itu Lea sering berhubungan dengan kak Ari,
mulai dari sms, telfon, BBM atau bahkan sampai skype. Lea yang sering
mebicarakan tentang Ica kepada kak Ari, supaya kak Ari tertarik pada Ica, tapi
kak Ari malah tidak merespon. Malah kak Ari fikir bahwa diantara Ica, Misha,
dan Amara, Icalah yang paling dekat dengan Lea. Dan dia fikir bahwa Lea sedikit
demi sedikit bisa membuka hatinya untuknya.
Hari-hari berlalu tanpa kendala. Akhirnya Lea memutuskan untuk
bertanya kepada Ica.
“Eh Ca
lo sebenernya naksir kan sama kak Ari” Tanya Lea
“Ih
apaan sih Lea” Ica tersipu.
“Enggak
usah bohong deh Ca, mata lo berbicara tuh, jujur aja kenapa sih Ca?” Tambah
Misha.
“Sorry
deh gays, bukannya gue enggak mau jujur, tapi gue takut ngelukai hati elo Lea”
Jawab Ica setengah terbata.
“Ica jangan
pernah berfikir picik kayak gitu ke gue, gue enggak pernah suka sama kak Ari,
elo bisa miliki dia kalo lo mau” Kata Lea sambil memeluk sahabatnya itu.
“Makasih
Lea, gue sayang elo” Peluk Ica sambil mengusap air matanya.
Bagi Lea persahabatan adalah sagalanya,
cukup dengan keberadaan mereka Lea bisa terus tersenyum diatas malasalah yang
dihadapinya. Lea tak pernah tau bagaimana hidupnya jika ia tidak bersandar pada
sahabat-sahabatnya itu. Bagai menerima anugerah terindah dari Tuhan, Lea bisa
mendapatkan sahabat seperti mereka. Lea sangat bersyukur dengan kehidupannya
saat ini, bahkan Lea sedikit demi sedikit bisa melupakan Rian, walau Lea sering
iri dengan kehidupan cinta Misha dan Amara, tapi Lea masih bisa tersenyum dan
ngakak karena bisa ngebully, ngerjain, godain, bahkan sampai berantem sama para
sahabatnya itu.
Sampai saat yang Lea tidak pernah
duga terjadi. Tanpa sepengetahuan Lea Kak Ari terus saja mendekatinya dan mencari-cari
informasi tentangnya. Karena menurut kak Ari, Lea paling dekat dengan Ica, kak
Ari sering ngehubungi Ica, lalu suka menyinggung-nyinggung tentang Lea. Saat
kak Ari sering menghubungi Ica, Ica pun merasa senang dan berbunga-bunga, kini
hari-hari Ica selalu diiringi dengan senyumnya yang ringan dan menghangatkan
hari. Ica fikir bahwa Lea lah yang mendekatnya dengan kak Ari, memang benar sih
tentang itu semua. Tapi antara Lea dan Ica tak ada yang tau bahwa sesungguhnya
kak Ari masih mencintai Lea. Akhirnya kak Ari mengambil jalan serius,
menurutnya ia sudah terlalu lama membuang waktu untuk mendekati Lea. Kak Ari
memutuskan untuk mengutarakan perasaannya pada Lea.
Malam itu kak Ari mengirim sms
kepada Ica, ia memberitahui Ica tentang rencananya untuk mengutarakan
perasaannya pada Lea.
To
: Ica
“Kayaknya
udah waktunya gue ngomong. Ica gue pengen jujur sama elo, karena menurut gue
elo adalah sahabatnya Lea yang paling deket sama dia. Elo pasti udah tau kalo
gue naksir sama Lea, udah lama gue nunggu dia. Akhir-akhir ini dia udah enggak
cuek lagi sama gue Ca, mungkin dia udah mulai bisa nerima gue. Rencananya besok
gue mau nembak dia, elo mau bantu gue kan Ca?. Please Ca bantuin gue, Cuma elo
yang bisa ngeyakinin dia buat bisa nerima gue.”
Saat itu rasanya hati Ica bagaikan
diiris-iris hingga remuk. Ia terbata-bata melihat pesan yang masuk dari kak
Ari. Ica menangis hingga mengisak-isak. Tapi dia tak mau membuat kak Ari
curiga, ia sempatkan membalas pesan dari kak Ari.
To :
Kak Ari
“Jadi
selama ini tuh kak Ari masih nungguin Lea? Oh iya kalo itu nggak usah ditanya
lagi ya kak. Aku pasti bantu kok, santai aja kak. Aku capek banget nih. Tidu
dulu ya.”
Perasaan Ica sudah campur aduk, dia
tak dapat menontrol amarahnya, antara mencoba untuk rela, marah, kecewa, sedih
dan juga ada kebencian yang menusuk hatinya.
Hari itu adalah hari dimana
kehidupan Lea benar-benar diuji. Saat Lea datang lalu memasuki kelas dia kaget
setengah mati melihat kak Ari yang menghalangi jalannya sambil membawa
setangkai mawar merah dan setangkai mawar putih. Di belakang kak Ari, Lea bisa
melihat 3 sosok sahabatnya yang sedang menunggu. Lea tak sengaja saling
bertatapan dengan Ica, mata Ica terlihat sembab, wajahnya sayu, saat itu juga
Lea bisa menyimpulkan bahwa Ica telah menangis semalaman. Bagai teriris belati,
hati Lea terasa pedih. Seharusnya ini tak boleh terjadi. Ia tak ingin melihat
sahabatnya menderita karenanya.
“Hai Lea, gue
udah nunggu lama buat hari ini. Hari ini gue ingin bilang yang sesungguhnya
tentang perasaan gue ke elo. Gue udah sayang banget sama elo Lea, gue pengen
kita lebih dari sekedar kakak adik. Elo mau kan jadi pacar gue? Kalo elo mau
jadi pacar gue ambil mawar merah yang ada di tangan kanan gue, kalo elo nolak
gue ambil mawar putih yang ada di tangan kiri gue.” Pinta kak Ari.
Lea hanya tertegun melihat kak Ari.
Mata Ica mulai terasa panas, ia sudah tak sanggup melihat semua itu, Ica
berlari keluar kelas. Amara dan Misha mengejarnya. Lea tetap membeku, rasanya
seluruh tubuhnya seperti terhantam batu. Ia lemas tak bertenaga, Lea jatuh
tertunduk di depan kak Ari. Seolah tau apa yang terjadi Kak Ari ikut bingung
dan mencoba menenangkan Lea.
“Maaf kak, aku
enggak bisa ngasih harapan lebih ke kakak. Aku Cuma bisa jadi adik kakak dan
enggak bisa lebih dari itu. Kakak bisa ninggalin aku. Ada yang lebih butuh
perhatian kakak saat ini. Cepat kak pergi, kejar Ica sekarang!” Air mata Lea
mulai berjatuhan.
“Iya Lea kakak
tau, kamu cewek yang baik. Bisa jadi kakak kamu aku udah seneng.” Tanpa
menunggu sepetik kata pun dari Lea, kak Ari langsung mengejar Ica.
“Lea elo enggak
kenapa-kenapa kan?” Raka datang sambil membangunkan Ica dan menghapus air
matanya.
Ica hanya diam dan menarik sudur
bibirnya seadanya, ia mencoba tersenyum kepada Raka tapi hatinya terlalu sakit
untuk mengembangkan senyum di bibirnya. Raka adalah teman Ica sejak kecil,
kebetulan rumah mereka satu kompleks. Mereka memang tidak terlalu dekat, tapi
hubungan Raka dan Ica sukup dibilang baik.
Saat Lea sudah mulai tenang, ia
mencoba mencari Ica dan menjelaskan semuanya. Akhirnya Lea menemukan Ica dan
teman-temannya, disana juga ada kak Ari. Mata Ica makin terlihat sipit.
Terlihat kak Ari yang mencoba menghiburnya, namun sayangnya Ica tak merespon
dan masih terlihat butiran bening yang terus mengalir membasahi pipinya yang
halus.
“Ca, maafin gue.
Bukan maksud gue kayak gitu.” Lea memohon pada Ica.
“Gue enggak mau
denger penjelasan lo Lea, pergi lo dari sini!” Bentak Ica.
“Dengerin gue
dulu Ca, gue tau gue salah. Tapi maaf… please maafin gue” Lea pun tak mampu
menahan tenagisnya.
“Pegi lo Lea..
Pergi!” Usir Ica.
“Mending lo pergi
dulu deh Lea, biar Ica nenangin dirinya dulu” Bisik Misha sambil mengusap air
mata Lea.
Pecuma saja Lea memohon, kalau hati
sahabatnya itu sudah mulai membatu. Lea memustuskan untuk membiarkan Ica
menenangkan dirinya dulu. Karena
pada dasarnya batu yang keras pun akan berlubang hanya karena tetesan air yang
menerpanya.
Hari-hari Lea
seperti tak berarti tanpa keberadaan para sahabatnya. Dia terus saja sendiri,
bebannya seolah menumpuk dan tak ada habisnya. Bukan hanya karena masalah Ica
tapi masih ada masalah lain. Kini Rian telah berpacaran dengan Sheila. Bak
jatuh ditimpa tangga pula kehipan Lea saat ini. Hatinya terasa perih teriris.
Apakah Lea akan tetap menunggu, menunggu seorang yang tak pernah menganggapnya
ada, dan meninggalkan semua kenyataan yang ada? Lea tidak sekuat itu, mungkin
selama ini dia tetap tersenyum tapi apakah ada yang mengetahui bahwa dibalik
senyumnya yang indah, hatinya menangis pilu. Lea menyerah ia tak sanggup
menungu Rian. Kini ia meninggalkan semua kehidupan cintanya. Ia memilih sendiri,
sendiri ia akan aman dari rasa sakit yang menusuk jantungnya dan rasa sakit
yang membuatnya mengurai luka di hati banyak orang.
Raka mengetahui semua beban yang ada
di benak Lea, ia merasa iba. Ia terus mengawasi Lea dari jauh. Sepertinya rasa ibanya
itu telah melebihi batasan normal. Raka tak bisa menyembuknyikan perasaannya
lagi. Tapi ia tak mau mendekatinya lebih
cepat, karena saat ini hati Lea masih terluka. Raka terus membantu Lea, dia
selalu menemani hari-hari Lea yang sepi.
Lea merasa tenang dengan kehadiran Raka, seolah luka yang ada di hatinya
perlahan membaik. Bagaikan perban yang membalut luka Lea, Raka selalu
membuatnya tersenyum hingga beban yang ada di hidupnya surasa menghilang.
Satu bulan telah berlalu, kini Ica
telah berpacaran dengan kak Ari. Kak Ari sadar bahwa Ica juga gadis yang baik,
apalagi Ica telah mencintainya terlebih dahulu dengan tulus. Bukan hal yang
sulit bagi kak Ari untuk membuka hatinya untuk Ica. Lea tak mau kalah dengan
Ica, sepertinya hati Lea mulai luluh dengan kesetiaan dan perhatian Raka selama
ini, akhirnya Lea menerima Raka sebagai pacarnya. Ica merasa bersalah pada Lea
karena tidak mendengar penjelasan Lea terlebih dahulu. Apalagi setelah
mendengar penjelasan dari kak Ari, Ica menjadi lebih tau tentang masalah yang
sedang terjadi. Semuanya masalah kini berubah menjadi kebahagiaan dan membuat
persahabatan mereka semakin kuat.
“Ciee pacar baru
nih? Biasanya kan kalo sepatu baru kan diinjek-injek, boleh nggak nih pacar
barunya diinjek?” Goda Amara tanpa rasa bersalah.
“Yee awas aja lo,
kalo dia sampek lecet sedikit aja, bakal gua ceburin lo ke kolam. Elo kan mirip
kucing, masa sama air aja takut, enggak kebayang deh kalo lo tenggelam di kolam
itu hahahaa” Amara cemberut mendengar ejekan Lea.
“Santai aja keles,
gue punya Miko yang mau nolongin gue kalo gue kecebur” Bantah Amara, sambil
merangkul Miko dengan manja. Mereka seperti adik kakak. Karena ukuran tubuh
Amara yang terlalu mungil dibawah Miko.
“Gue bakalan
nyelamatin elo kok Ara, apa sih yang enggak buat elo” Gombal Miko.
“Apaan sih
kalian, yang penting tuh kita tinggal nungguin traktiran dari Lea sama si Ica”
Misha nyengir sambil melirik Aldo yang ada disampinya.
“Kayaknya bakalan
kenyang nih kita Sha” Tanggap Aldo sumringah.
“Eh enak banget
idup kalian, bayar sendiri-sendirilah. Bisa bangkrut gue nraktir kalian yang
bawa gandengan masing-masing” Cibir Ica.
“Udahlah Caca
jangan marah-marah terus, nanti cakepnya ilang loh. Tenang gays ada gue, makan
aja sepuasnya, gue traktir…” Sanggah kak Ari.
“Cocok banget deh
lo Ri, tau aja gue lagi kelaparan. Kayaknya gue bakalan cinta sama elo deh”
Raka tidak mau kalah dengan yang lainnya.
“Gue masih sayang
sama Ica, jangan deketi gue. Kalo lo cinta ama gue, mau lo kemanain si Lea” Kak
Ari sok nasehati.
“Hii apaan sih
lo? gue masih normal. Gue enggak bakal naksir lo, gue udah cinta mati deh sama
Lea” Bantah Raka sewot.
“Hahahaaa” mereka
hanya tertawa melihat muka Raka yang enggak terima.
Kini
Lea sudah sepenuhnya pergi dari kehidupan Rian. Ia tak perlu menunggu terlalu
lama untuk orang yang tak pernah datang dalam hidupnya. Sesungguhnya ada ruang
hati lain yang menunggu untuk Lea masuki. Benar saja, hari-harinya terasa lebih
berwarna dengan kehadiran Raka yang selalu melukis senyum dihidupnya. Dan persahabatan
Lea, Ica, Misha dan Amara mulai membaik dan kembali seperti dahulu, bahkan kini
mereka lebih akrab dan terlihat menikmati semua warna yang tergores di dalam
persahabatan mereka, mereka terlihat lebih tenang dalam menghadapi masalah.
Entah itu masalah kecil, besar, ataupun masalah cinta. Mereka jadi lebih
mengerti apa itu cinta dan persahabatan. Terlalu mudah bila melepaskan sahabat
demi keegoisan untuk memilih cinta. Persahabatan itu lebih berhaga daripada
disia-siakan karena salah faham tentang cinta.
Seperti
kata pepatah semakin kuat angin yang menerpa sebuah pohon, maka akan semakin
kuat pula pohon tersebut. Mungkin ada kalanya sebuah pohon akan mengering.
Bahkan daun yang selama ini melekat pada dahannya akan mulai berguguran. Tak
ada gunanya lagi pupuk yang selama ini memberi nutrisi pada pohon itu. Percuma
bila pupuk itu terus digunakan untuk memupuknya agar tak mengering. Karena
musim kemaraulah yang mengeringkan semuanya. Bisa saja pohon tersebut mati dan
mengering kalau kita hanya membiarkannya tanpa mengurusnya, dan apalagi jika
kita hanya menunggu waktu merengut kehidupannya. Seperti itulah sebuah
persahabatan, bukan hanya akan ada satu masalah yang menerpanya, tetapi akan
ada berkali-kali masalah yang menghampri. Tapi jika kalian berhasil melawati
hari-hari tersulit dalam persahabatan kalaan, pasti suatu saat kalian akan
menuai keberhasilan. Rawatlah pohon yang mengering itu dengan setia, terus
siram ia dengan cinta, pupuk ia dengan senyuman, dan lihatlah ia dengan
ketulusan. Maka ia pasti akan bangkit dan bersemi. Suatu kebaikan yang kalian
tanam pasti suatu saat akan kaliah tuai. Dan saat pohon itu berbuah maka kalian
juga akan menuai kebahagiaan di dalamnya.
Jangan
sia-siakan orang yang menyayangi kita, karena belum tentu ia akan bertahan bila
kita terus mengacuhkannya. Jangan pernah menyesal bila semuanya terlanjur
terjadi. Memang penyesalan selalu datang di akhir cerita. Bahkan sesuatu yang
telah pergi akan terlihat berharga bila kita amati. Maka jagalah mereka yang
kita sayang selagi bisa kita gapai. Tak ada yang tak mungkin bila kita terus
berusaha melakukan yang terbaik.
Oooooooo
ooO~ SEKIAN ~Ooo oooooooO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar