Kamis, 25 September 2014



FRiENSHIP Or love   ?

Pada dasarnya air tidak hanya mengalir pada satu sungai
Memang bukan hanya ada satu titik menuju kehidupan
Disini pun ada lebih dari satu masalah yang mengganggu
Bahkan setiap petik kata dapat mematikan hati
Karena hidup tak selalu tentang bahagia


Jika cinta maksudnya
menyediakan tempat  utuk orang yang tak pernah datang,
lebih baik tidak!


Ketika sinar mentari mulai menusuk semua penjuru ruangan, dan saat itu pula Lea baru terbangun dari mimpi indah yang tak berujung. Lea kaget setengah mati melihat matahari yang sudah menjulang tinggi di ufuk Timur. “Ya ampun, udah jam berapa ini? Tuh kan telat bangun lagi gara-gara mimpi yang nggak jelas itu huuuhh” Desah Lea.
            Seperti biasa hari ini adalah jadwal olahraga kelas Lea. Dan lagi-lagi Lea telat bangun dan terlambat mengikuti olahraga. Sebenarnya Lea adalah anak yang rajin, dia selalu berangkat pagi di hari-hari biasa. Tapi karena kelas Lea mendapat jadwal olahraga yang super pagi, Lea sering terlambat saat jam olahraga.
“Heh Lea! Tadi lo telat lagi? Apa enggak bosen telat terus?” tegur Misha.
“Sorry deh Sha, tau kan kalo pagi-pagi tuh gue susah baggun” sahut Lea tanpa bersalah.
“Dasar deh lo”
“Yaudah lah Sha, udah ganti jam pelajaran nih. Ayo cepet kita ke kelas” ajak Lea.
            Sampai di kelas Lea terus memperhatikan pelajaran dengan fokus, karena tidak ada jam kosong yang bisa digunakan utuk sekedar bersendau gurau atau mengobrol dengan teman-temannya. Akhirnya waktu yang ditunggu- tungu datang, apa lagi kalo bukan bel pulang sekolah. Seperti komando saja, tak lama setelah bel seluruh siswa-siswi berhambur keluar kelas dan memenuhi sudut sekolah.
            Lea, Misha, Ica, Cecil dan Amara pulang bersama, saat diparkiran mereka melihar sesosok orang yang mereka kenal.
“Eh Lea, itu bukannya si Rian ya?” Tanya Ica.
“Ciee… si Lea mulai salah tingkah tuh” Sahut Amara terkekeh.
“Hehee apaan sih kalian, lumayan kan siang-siang bisa cuci mata” Jawab Lea.
“Seenaknya aja ngomongnya” Misha tiba-tiba.
“Udahlah, ayo cepet pulang” Kata Lea.
“Iya deh, Lea sebarnya lo tau engga sih? Rian itu udah punya gebetan dan gebetannya itu ada di kelas sebelah kita, namanya Sheila” Misha berkata dengan hati-hati, dia takut melukai hati sahabatnya itu.
“Santai aja Sha, dari awal gue udah tau kok. Lagian kan cinta itu tidak harus saling memiliki” Jawab Lea enteng.
“Lea elo engga apa-apa kan? Sebenernya apa sih yang elo fikirin sampai bisa naksir gebetan orang?” Tanya Ica.
“Gue udah biasa sakit dengan hal semacam itu Ca, Gua kan cewek strong! Gue engga mikir aneh-aneh kok, gue cuma suka ngeliatin dia dan menyimpan rasa yang ada di hati gue” Sahut Lea serius.
“Lea… banyak cowok nganggungin elo, ngejar-ngejar elo, nyari perhatian ke elo, bahkan mereka mencintai lo dengan setulus hati mereka. Lea… mereka juga punya kepribadian yang baik bahkan mereka tidak kalah sempurna seperti Rian. Tapi kenapa elo mengacuhkan mereka dan malah lebih memilih menunggu Rian yang sering bikin diri lo nangis? Lo sering bilang strong ke kita padahal di balik kata itu lo masih menagis tanpa mau berbagi air mata sama kita. Cukup Lea cukup… lo itu enggak akan pernah bisa sekeras batu, elo itu terlalu lembut. Lea gue pengen liat senyum lo yang tulus, bukan air mata yang sering terurai di pipi lo, bukan senyuman yang memangksa dan bahkan bukan hal garing yang sering lo ketawain sendiri. Stop pakek topeng didepan kita! Buat diri lo bahagia Lea, bisa nggak lo move on dari Rian?” Tanpa Ica spontan.
“Makasih Ca elo udah ngingetin gue, tapi semua hal tentang cinta enggak pernah semudah itu. Kalo Tuhan ngijinin gue buat suka sama orang yang mencintai gue dengan tulus, gue akan dengan senang hati nyambut itu. Dan gue bakalan rela ngelepas Rian. Tapi Ca.. Tuhan punya kehendak lain dibalik semua itu, gue berterima kasih sama Tuhan karena gue tercipta bukan sebagi cewek yang behati tajam, melainkan hanya tecipta dengan hati yang rapuh. Elo sumua pasti tau kan? Gue bukan orang yang mudah jatuh cinta. Di umur gue yang 17 ini aja gue Cuma pernah jatuh cinta 3 kali, enggak lebih. Gue bisa cepet move on tapi lo semua juga tau kan, kalo gue move on dari orang yang benar-benar gue cintai pasti akan ada hati yang lebih terluka. Gue enggak ingin nyakiti hati orang yang mencintai gue. Gue nggak ingin memanfaatkan mereka cuma sebagai pelapiasan. Dengan ngacuhin mereka gue bisa bikin mereka pergi dari hidup gue tanpa menyakiti mereka. Mereka juga berhak bahagia dengan cinta yang lain tapi bukan sama gue. Mungkin saat ini belum saatnya gue move on. Liat aja rencana Tuhan selanjutnya” Lea hanya tersenyum.
“Apa elo engga takut disangka perusah hubungan orang?” Tanya Amara.
“Ara… kalo cuma sekedar ngelihat dia, lalu menyimpan cinta untuk buat dia, tanpa menyetuh atau mengganggu hubungannya dengan orang lain itu namanya bukan perusah hubungan orang lain. Bahkan dengan melihatnya bahagia dengan orang lain itu udah cukup buat gue bahagia kok” Lea hanya menjawab seadanya.
“Yaudahlah gays, lagian Lea bukan tipe cewek yang suka ngerusak hubungan orang kok, tenang aja Lea kan keturunan keraton yang masih menjunjung tinggi kepribadian dan harga dirinya ” Celoteh Misha.
“Ah sok tau deh Mishaa” Sahut Lea.
“Yee.. emang bener kok” Sahut Misha, Ica dan Amara bersamaan.
            Memang sejak awal Lea sudah mengetahui segalanya, mulai tentang biodata Rian, masa lalu Rian, bahkan juga orang yang sedang Rian dekati. Lea tidak pernah menganggap dirinya sebagai pengganggu atau perusak hubungan orang, karena Lea hanya mengawasi dan mencintainya dari jauh bahkan tanpa menyetuh kehidupan Rian setitik pun. Sebenarnya Lea bukanlah gadis yang buruk, Lea pintar, baik, asik dalam bergaul, Lea juga tak kalah cantik dengan gadis lain, dia punya sepasang mata yang indah dan sekilas senyum yang manis, walau terkadang senyumnya itu sering terlihat berlebihan saat tertawa besama teman-temannya. Karena Lea itu adalah seorang yang mepunyai jiwa lebih murni dari emas, lebih bening dari air dan bahkan lebih halus dari kapas.
            Lea masih terus mengawasi Rian dari jauh, mencuri pandang darinya, bahkan bertegur sapa bila dia terkadang terpergok oleh Rian. Memang Lea dan Rian sudah saling kenal, mereka dulunya teman SMP. Sudah sangat lama Lea memedam rasa pada Rian, bahkan sudah banyak cowok yang Lea tolak demi menunggu seorang Rian mengahampiri hatinya.
            Sore itu Lea dan teman-temannya nongkrong bareng di markas biasa, yaitu Café dekat sekolah mereka. Disana Lea bisa sambil mengawasi Rian yang terkadang nongkrong bersama temannya atau sedang bercengkarama dengan gebetan atau pacarnya. Tidak lama setelah Lea dan teman-temannya nongrong tiba-tiba ada Kak Ari yang ikut gabung sama mereka.
            Kak Ari adalah cowok yang cakep juga keren, dan kerennya lagi dia itu baik dan sopan. Kak Ari itu kakak Kelas Lea dan teman-temannya. Kak Ari adalah salah satu dari cowok yang naksir sama Lea. Sebenarnya mudah saja bila Lea menyukai kak Ari dan meninggalkan Rian tapi Lea tau bahwa Ica sebenarnya naksir sama kak Ari.
“Hai Lea, Ica, Misha dan Amara” Sapa kak Ari.
“Eh ada kak Ari” Timbal Ica.
“Iya Ca, lagi ngapain nih nongkrong disini? Lagi bicarain gue ya?” Canda kak Ari.
“Yee PD banget sih jadi orang” Lea jadi sewot.
“Tau deh tuh kak Ari” Sambung Amara.
“Haha pada sewot semua, ya maap. Lagian kaliah serius banget sih” Kak Ari jadi ngerasa bersalah.
“Iya kak, dimaafin kok” Sahut Ica.
“Contoh tuh temen kalian yang satu ini, baik banget deh” Kata kak Ari asal.
            Tanpa sadar pipi Ica langsung merah merona, akhirnya mereka berlima ngobrol panjang kali lebar sama dengan lama hahaha. Ya pokoknya ngobrol kesana kemari sampai enggak berujung. Karena udah sore mereka pun memutuskan untuk pulang.
“Temen-temen kita duluan ya” pamit Amara dan Misha, karena rumah mereka deket dari sekolah, mereka jalan kaki sedangkan Kak Ari, Lea dan Ica menunggu di halte bus depan sekolah. 
“Lea dijemput apa enggak?” Tanya kak Ari.
“Enggak kak, aku naik taxi kok” Jawab Lea.
“Naik taxi bareng yuk? Rumah kita kan searah?” Ajak kak Ari.
“Engga usah kak rumahku kan agak jauhan, mending kakak pulang bareng si Ica deh, rumah kalian kan cuma beda gang” Usul Lea.
“Kalo gitu kita bertiga pulang bareng aja” Kata kak Ari.
“Yaudah deh Lea, pulang bareng aja, lagian jam segini taxi jarang banget lewat sini” Ica akhirnya ikut bicara.
“Ayo cepet naik” Suruh kak Ari.
            Di dalam taxi Lea duduk disamping kak Ari, sedangkan Ica duduk di dekat supir taxi. Sebenarnya Ica iri sama Lea yang bisa dekat dengan kak Ari. Ica telah lama memendam rasa kepada kak Ari tapi karena tau kak Ari naksir sama Lea dan Lea sebenarnya ada sedikit rasa sama kak Ari akhirnya Ica bungkam dan lebih memilih mencintai kak Ari secara diam-diam.
            Disisi lain Lea merasa tidak enak dengan Ica, tapi Lea juga ingin move on dari Rian dengan cara sedikit membuka hatinya untuk kak Ari. Karena menurut Lea diantara cowok yang naksir sama dia, hanya kak Ari yang serius dan baik padanya. Tapi Lea segera memurungkan niatnya, karena tanpa sadar Lea tau arti dari tatapan mata Ica yang berbinar-binar setiap kali melihat sosok kak Ari. Lea sengaja mengalah untuk sahabatnya dan dia berencana menyatukan kak Ari dan Ica. Yang pasti rencananya itu disembunyikan dari teman-temannya yang lain. Karena Lea takut kalo ia bercerita kepada teman-temannya, mereka akan memberitahu Ica, dan itu enggak akan jadi kejutan lagi buat Ica.
Karena rencananya itu Lea sering berhubungan dengan kak Ari, mulai dari sms, telfon, BBM atau bahkan sampai skype. Lea yang sering mebicarakan tentang Ica kepada kak Ari, supaya kak Ari tertarik pada Ica, tapi kak Ari malah tidak merespon. Malah kak Ari fikir bahwa diantara Ica, Misha, dan Amara, Icalah yang paling dekat dengan Lea. Dan dia fikir bahwa Lea sedikit demi sedikit bisa membuka hatinya untuknya.
Hari-hari berlalu tanpa kendala. Akhirnya Lea memutuskan untuk bertanya kepada Ica.
“Eh Ca lo sebenernya naksir kan sama kak Ari” Tanya Lea
“Ih apaan sih Lea” Ica tersipu.
“Enggak usah bohong deh Ca, mata lo berbicara tuh, jujur aja kenapa sih Ca?” Tambah Misha.
“Sorry deh gays, bukannya gue enggak mau jujur, tapi gue takut ngelukai hati elo Lea” Jawab Ica setengah terbata.
“Ica jangan pernah berfikir picik kayak gitu ke gue, gue enggak pernah suka sama kak Ari, elo bisa miliki dia kalo lo mau” Kata Lea sambil memeluk sahabatnya itu.
“Makasih Lea, gue sayang elo” Peluk Ica sambil mengusap air matanya.
            Bagi Lea persahabatan adalah sagalanya, cukup dengan keberadaan mereka Lea bisa terus tersenyum diatas malasalah yang dihadapinya. Lea tak pernah tau bagaimana hidupnya jika ia tidak bersandar pada sahabat-sahabatnya itu. Bagai menerima anugerah terindah dari Tuhan, Lea bisa mendapatkan sahabat seperti mereka. Lea sangat bersyukur dengan kehidupannya saat ini, bahkan Lea sedikit demi sedikit bisa melupakan Rian, walau Lea sering iri dengan kehidupan cinta Misha dan Amara, tapi Lea masih bisa tersenyum dan ngakak karena bisa ngebully, ngerjain, godain, bahkan sampai berantem sama para sahabatnya itu.
            Sampai saat yang Lea tidak pernah duga terjadi. Tanpa sepengetahuan Lea Kak Ari terus saja mendekatinya dan mencari-cari informasi tentangnya. Karena menurut kak Ari, Lea paling dekat dengan Ica, kak Ari sering ngehubungi Ica, lalu suka menyinggung-nyinggung tentang Lea. Saat kak Ari sering menghubungi Ica, Ica pun merasa senang dan berbunga-bunga, kini hari-hari Ica selalu diiringi dengan senyumnya yang ringan dan menghangatkan hari. Ica fikir bahwa Lea lah yang mendekatnya dengan kak Ari, memang benar sih tentang itu semua. Tapi antara Lea dan Ica tak ada yang tau bahwa sesungguhnya kak Ari masih mencintai Lea. Akhirnya kak Ari mengambil jalan serius, menurutnya ia sudah terlalu lama membuang waktu untuk mendekati Lea. Kak Ari memutuskan untuk mengutarakan perasaannya pada Lea.
            Malam itu kak Ari mengirim sms kepada Ica, ia memberitahui Ica tentang rencananya untuk mengutarakan perasaannya pada Lea.
To            : Ica
                “Kayaknya udah waktunya gue ngomong. Ica gue pengen jujur sama elo, karena menurut gue elo adalah sahabatnya Lea yang paling deket sama dia. Elo pasti udah tau kalo gue naksir sama Lea, udah lama gue nunggu dia. Akhir-akhir ini dia udah enggak cuek lagi sama gue Ca, mungkin dia udah mulai bisa nerima gue. Rencananya besok gue mau nembak dia, elo mau bantu gue kan Ca?. Please Ca bantuin gue, Cuma elo yang bisa ngeyakinin dia buat bisa nerima gue.”
            Saat itu rasanya hati Ica bagaikan diiris-iris hingga remuk. Ia terbata-bata melihat pesan yang masuk dari kak Ari. Ica menangis hingga mengisak-isak. Tapi dia tak mau membuat kak Ari curiga, ia sempatkan membalas pesan dari kak Ari.
To            : Kak Ari
                “Jadi selama ini tuh kak Ari masih nungguin Lea? Oh iya kalo itu nggak usah ditanya lagi ya kak. Aku pasti bantu kok, santai aja kak. Aku capek banget nih. Tidu dulu ya.”
            Perasaan Ica sudah campur aduk, dia tak dapat menontrol amarahnya, antara mencoba untuk rela, marah, kecewa, sedih dan juga ada kebencian yang menusuk hatinya.
            Hari itu adalah hari dimana kehidupan Lea benar-benar diuji. Saat Lea datang lalu memasuki kelas dia kaget setengah mati melihat kak Ari yang menghalangi jalannya sambil membawa setangkai mawar merah dan setangkai mawar putih. Di belakang kak Ari, Lea bisa melihat 3 sosok sahabatnya yang sedang menunggu. Lea tak sengaja saling bertatapan dengan Ica, mata Ica terlihat sembab, wajahnya sayu, saat itu juga Lea bisa menyimpulkan bahwa Ica telah menangis semalaman. Bagai teriris belati, hati Lea terasa pedih. Seharusnya ini tak boleh terjadi. Ia tak ingin melihat sahabatnya menderita karenanya.
“Hai Lea, gue udah nunggu lama buat hari ini. Hari ini gue ingin bilang yang sesungguhnya tentang perasaan gue ke elo. Gue udah sayang banget sama elo Lea, gue pengen kita lebih dari sekedar kakak adik. Elo mau kan jadi pacar gue? Kalo elo mau jadi pacar gue ambil mawar merah yang ada di tangan kanan gue, kalo elo nolak gue ambil mawar putih yang ada di tangan kiri gue.” Pinta kak Ari.
            Lea hanya tertegun melihat kak Ari. Mata Ica mulai terasa panas, ia sudah tak sanggup melihat semua itu, Ica berlari keluar kelas. Amara dan Misha mengejarnya. Lea tetap membeku, rasanya seluruh tubuhnya seperti terhantam batu. Ia lemas tak bertenaga, Lea jatuh tertunduk di depan kak Ari. Seolah tau apa yang terjadi Kak Ari ikut bingung dan mencoba menenangkan Lea.
“Maaf kak, aku enggak bisa ngasih harapan lebih ke kakak. Aku Cuma bisa jadi adik kakak dan enggak bisa lebih dari itu. Kakak bisa ninggalin aku. Ada yang lebih butuh perhatian kakak saat ini. Cepat kak pergi, kejar Ica sekarang!” Air mata Lea mulai berjatuhan.
“Iya Lea kakak tau, kamu cewek yang baik. Bisa jadi kakak kamu aku udah seneng.” Tanpa menunggu sepetik kata pun dari Lea, kak Ari langsung mengejar Ica.
“Lea elo enggak kenapa-kenapa kan?” Raka datang sambil membangunkan Ica dan menghapus air matanya.
            Ica hanya diam dan menarik sudur bibirnya seadanya, ia mencoba tersenyum kepada Raka tapi hatinya terlalu sakit untuk mengembangkan senyum di bibirnya. Raka adalah teman Ica sejak kecil, kebetulan rumah mereka satu kompleks. Mereka memang tidak terlalu dekat, tapi hubungan Raka dan Ica sukup dibilang baik.
            Saat Lea sudah mulai tenang, ia mencoba mencari Ica dan menjelaskan semuanya. Akhirnya Lea menemukan Ica dan teman-temannya, disana juga ada kak Ari. Mata Ica makin terlihat sipit. Terlihat kak Ari yang mencoba menghiburnya, namun sayangnya Ica tak merespon dan masih terlihat butiran bening yang terus mengalir membasahi pipinya yang halus.
“Ca, maafin gue. Bukan maksud gue kayak gitu.” Lea memohon pada Ica.
“Gue enggak mau denger penjelasan lo Lea, pergi lo dari sini!” Bentak Ica.
“Dengerin gue dulu Ca, gue tau gue salah. Tapi maaf… please maafin gue” Lea pun tak mampu menahan tenagisnya.
“Pegi lo Lea.. Pergi!” Usir Ica.
“Mending lo pergi dulu deh Lea, biar Ica nenangin dirinya dulu” Bisik Misha sambil mengusap air mata Lea.
            Pecuma saja Lea memohon, kalau hati sahabatnya itu sudah mulai membatu. Lea memustuskan untuk membiarkan Ica menenangkan dirinya dulu. Karena pada dasarnya batu yang keras pun akan berlubang hanya karena tetesan air yang menerpanya.
            Hari-hari Lea seperti tak berarti tanpa keberadaan para sahabatnya. Dia terus saja sendiri, bebannya seolah menumpuk dan tak ada habisnya. Bukan hanya karena masalah Ica tapi masih ada masalah lain. Kini Rian telah berpacaran dengan Sheila. Bak jatuh ditimpa tangga pula kehipan Lea saat ini. Hatinya terasa perih teriris. Apakah Lea akan tetap menunggu, menunggu seorang yang tak pernah menganggapnya ada, dan meninggalkan semua kenyataan yang ada? Lea tidak sekuat itu, mungkin selama ini dia tetap tersenyum tapi apakah ada yang mengetahui bahwa dibalik senyumnya yang indah, hatinya menangis pilu. Lea menyerah ia tak sanggup menungu Rian. Kini ia meninggalkan semua kehidupan cintanya. Ia memilih sendiri, sendiri ia akan aman dari rasa sakit yang menusuk jantungnya dan rasa sakit yang membuatnya mengurai luka di hati banyak orang.
            Raka mengetahui semua beban yang ada di benak Lea, ia merasa iba. Ia terus mengawasi Lea dari jauh. Sepertinya rasa ibanya itu telah melebihi batasan normal. Raka tak bisa menyembuknyikan perasaannya lagi.  Tapi ia tak mau mendekatinya lebih cepat, karena saat ini hati Lea masih terluka. Raka terus membantu Lea, dia selalu menemani hari-hari Lea yang sepi.  Lea merasa tenang dengan kehadiran Raka, seolah luka yang ada di hatinya perlahan membaik. Bagaikan perban yang membalut luka Lea, Raka selalu membuatnya tersenyum hingga beban yang ada di hidupnya surasa menghilang.
            Satu bulan telah berlalu, kini Ica telah berpacaran dengan kak Ari. Kak Ari sadar bahwa Ica juga gadis yang baik, apalagi Ica telah mencintainya terlebih dahulu dengan tulus. Bukan hal yang sulit bagi kak Ari untuk membuka hatinya untuk Ica. Lea tak mau kalah dengan Ica, sepertinya hati Lea mulai luluh dengan kesetiaan dan perhatian Raka selama ini, akhirnya Lea menerima Raka sebagai pacarnya. Ica merasa bersalah pada Lea karena tidak mendengar penjelasan Lea terlebih dahulu. Apalagi setelah mendengar penjelasan dari kak Ari, Ica menjadi lebih tau tentang masalah yang sedang terjadi. Semuanya masalah kini berubah menjadi kebahagiaan dan membuat persahabatan mereka semakin kuat.
“Ciee pacar baru nih? Biasanya kan kalo sepatu baru kan diinjek-injek, boleh nggak nih pacar barunya diinjek?” Goda Amara tanpa rasa bersalah.
“Yee awas aja lo, kalo dia sampek lecet sedikit aja, bakal gua ceburin lo ke kolam. Elo kan mirip kucing, masa sama air aja takut, enggak kebayang deh kalo lo tenggelam di kolam itu hahahaa” Amara cemberut mendengar ejekan Lea.
“Santai aja keles, gue punya Miko yang mau nolongin gue kalo gue kecebur” Bantah Amara, sambil merangkul Miko dengan manja. Mereka seperti adik kakak. Karena ukuran tubuh Amara yang terlalu mungil dibawah Miko.
“Gue bakalan nyelamatin elo kok Ara, apa sih yang enggak buat elo” Gombal Miko.
“Apaan sih kalian, yang penting tuh kita tinggal nungguin traktiran dari Lea sama si Ica” Misha nyengir sambil melirik Aldo yang ada disampinya.
“Kayaknya bakalan kenyang nih kita Sha” Tanggap Aldo sumringah.
“Eh enak banget idup kalian, bayar sendiri-sendirilah. Bisa bangkrut gue nraktir kalian yang bawa gandengan masing-masing” Cibir Ica.
“Udahlah Caca jangan marah-marah terus, nanti cakepnya ilang loh. Tenang gays ada gue, makan aja sepuasnya, gue traktir…” Sanggah kak Ari.
“Cocok banget deh lo Ri, tau aja gue lagi kelaparan. Kayaknya gue bakalan cinta sama elo deh” Raka tidak mau kalah dengan yang lainnya.
“Gue masih sayang sama Ica, jangan deketi gue. Kalo lo cinta ama gue, mau lo kemanain si Lea” Kak Ari sok nasehati.
“Hii apaan sih lo? gue masih normal. Gue enggak bakal naksir lo, gue udah cinta mati deh sama Lea” Bantah Raka sewot.
“Hahahaaa” mereka hanya tertawa melihat muka Raka yang enggak terima.
            Kini Lea sudah sepenuhnya pergi dari kehidupan Rian. Ia tak perlu menunggu terlalu lama untuk orang yang tak pernah datang dalam hidupnya. Sesungguhnya ada ruang hati lain yang menunggu untuk Lea masuki. Benar saja, hari-harinya terasa lebih berwarna dengan kehadiran Raka yang selalu melukis senyum dihidupnya. Dan persahabatan Lea, Ica, Misha dan Amara mulai membaik dan kembali seperti dahulu, bahkan kini mereka lebih akrab dan terlihat menikmati semua warna yang tergores di dalam persahabatan mereka, mereka terlihat lebih tenang dalam menghadapi masalah. Entah itu masalah kecil, besar, ataupun masalah cinta. Mereka jadi lebih mengerti apa itu cinta dan persahabatan. Terlalu mudah bila melepaskan sahabat demi keegoisan untuk memilih cinta. Persahabatan itu lebih berhaga daripada disia-siakan karena salah faham tentang cinta.
Seperti kata pepatah semakin kuat angin yang menerpa sebuah pohon, maka akan semakin kuat pula pohon tersebut. Mungkin ada kalanya sebuah pohon akan mengering. Bahkan daun yang selama ini melekat pada dahannya akan mulai berguguran. Tak ada gunanya lagi pupuk yang selama ini memberi nutrisi pada pohon itu. Percuma bila pupuk itu terus digunakan untuk memupuknya agar tak mengering. Karena musim kemaraulah yang mengeringkan semuanya. Bisa saja pohon tersebut mati dan mengering kalau kita hanya membiarkannya tanpa mengurusnya, dan apalagi jika kita hanya menunggu waktu merengut kehidupannya. Seperti itulah sebuah persahabatan, bukan hanya akan ada satu masalah yang menerpanya, tetapi akan ada berkali-kali masalah yang menghampri. Tapi jika kalian berhasil melawati hari-hari tersulit dalam persahabatan kalaan, pasti suatu saat kalian akan menuai keberhasilan. Rawatlah pohon yang mengering itu dengan setia, terus siram ia dengan cinta, pupuk ia dengan senyuman, dan lihatlah ia dengan ketulusan. Maka ia pasti akan bangkit dan bersemi. Suatu kebaikan yang kalian tanam pasti suatu saat akan kaliah tuai. Dan saat pohon itu berbuah maka kalian juga akan menuai kebahagiaan di dalamnya.
Jangan sia-siakan orang yang menyayangi kita, karena belum tentu ia akan bertahan bila kita terus mengacuhkannya. Jangan pernah menyesal bila semuanya terlanjur terjadi. Memang penyesalan selalu datang di akhir cerita. Bahkan sesuatu yang telah pergi akan terlihat berharga bila kita amati. Maka jagalah mereka yang kita sayang selagi bisa kita gapai. Tak ada yang tak mungkin bila kita terus berusaha melakukan yang terbaik.

Oooooooo ooO~ SEKIAN ~Ooo oooooooO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar